-->
Ruang Berita

Siswa SD Islam Terpadu Al-Insan Pinrang Diduga Jadi Korban Kekerasan, Alami Kebocoran Ginjal

PINRANG – Seorang siswa kelas II SD Islam Terpadu Al-Insan Pinrang, AAS (7), mengalami kebocoran ginjal setelah diduga menjadi korban kekerasan fisik oleh teman sekelasnya, GBR (7), yang disebut merupakan anak seorang anggota polisi di Sidrap.

Hingga kini, AAS masih mengalami kencing berdarah akibat kondisi tersebut.

Peristiwa itu terjadi pada Senin, 28 Juli 2025, usai salat Zuhur menjelang kegiatan les mengaji di sekolah. Ayah korban, Ismail Alwi, menjelaskan insiden bermula saat guru pendamping meminta AAS memanggil GBR untuk masuk kelas. Saat itulah diduga terjadi aksi pembantingan yang menyebabkan cedera serius pada tubuh korban.

Insiden tersebut tidak langsung dilaporkan pihak sekolah kepada keluarga. Tiga hari kemudian, orang tua mulai curiga setelah melihat bengkak di leher AAS, disertai demam tinggi, muntah, serta kehilangan nafsu makan dan minum.

“Istriku menangis saat lihat keadaan anakku. Baru setelah dibujuk, AAS mengaku dibanting di sekolah,” kata Ismail saat ditemui Wartawan, Kamis 27 November.

Ismail mengaku meminta bantuan Babinkantibmas untuk mengamankan rekaman CCTV. Namun, pihak Babinkantibmas menyatakan sekolah tidak memiliki CCTV.

Keluarga kemudian meminta klarifikasi dari guru pendamping. “Guru hanya mengiyakan kejadiannya, tapi tidak ada tindak lanjut. Kami sangat sesalkan kenapa tidak diberi tahu sejak awal,” ujar Ismail.

Setelah mengetahui anaknya menjadi korban kekerasan, AAS dilarikan ke rumah sakit di Pinrang pada Jumat, 1 Agustus. Hasil pemeriksaan medis menunjukkan adanya kebocoran ginjal. Keluarga lalu meminta rujukan ke RS Universitas Hasanuddin (Unhas). Hingga kini, AAS masih buang air kecil bercampur darah.

“Terakhir dokter bilang sabar saja, karena masih ada darah yang keluar,” tutur Ismail.

Ismail mengaku telah menemui pihak sekolah untuk meminta kejelasan. Namun, kepala sekolah mengaku tidak mengetahui kejadian tersebut, bahkan menyebut tidak mengetahui adanya kegiatan les mengaji di sekolah.

Menurut Ismail, pihak sekolah hanya menyampaikan bahwa mereka akan memberikan pembinaan kepada pelaku. Karena tidak ada kejelasan, keluarga mengadukan masalah ini ke pihak kelurahan. Kepala sekolah dipanggil tetapi tidak hadir dengan alasan sedang berada di Makassar.

“Lurah hubungi kepala sekolah dan dia bilang kejadian itu terjadi di luar jam sekolah, seolah-olah tidak mau bertanggung jawab,” ungkap Ismail.

Pertemuan lanjutan kemudian digelar bersama ketua yayasan, kepala sekolah, wali kelas, Babinkantibmas, dan pihak kelurahan. Keluarga menyampaikan sejumlah tuntutan terkait penanganan kasus dan pemulihan korban. Namun setelah rapat internal, pihak sekolah menolak seluruh tuntutan tersebut.

“Sampai sekarang tidak ada itikad baik dari pihak sekolah,” tegas Ismail.

Ismail menambahkan bahwa kondisi anaknya belum stabil dan butuh waktu pemulihan panjang. Ia berharap pihak sekolah dan orang tua pelaku yang merupakan anggota kepolisian dapat menunjukkan tanggung jawab.

“Kami hanya ingin keadilan. Anak kami sakit sampai ginjalnya bocor. Ini bukan kejadian kecil,” ujarnya.

Ibu korban, Fadhillah, juga menuntut agar pelaku dikeluarkan dari sekolah karena anaknya mengalami trauma. “Saya mau pelaku DO. Anak saya tidak mau sekolah kalau pelaku masih di situ,” jelasnya.

Sementara itu, kepala sekolah yang coba dikonfirmasi wartawan tidak berada di ruangannya. Upaya konfirmasi melalui pesan WhatsApp juga belum mendapat respons.




0


Scroll to Top